Rilis: 15 Oktober 2021
Sutradara: Ridley Scott
Genre: Drama sejarah, kriminal, aksi, biografi
Durasi: 153 menit / 2 jam 33 menit
The Last Duel adalah film drama sejarah karya Ridley Scott yang berlatar Prancis abad ke-14. Film ini mengisahkan konflik antara Jean de Carrouges dan Jacques Le Gris setelah Marguerite, istri Carrouges, menuduh Le Gris melakukan pemerkosaan. Film yang dibintangi Matt Damon, Adam Driver, Jodie Comer, dan Ben Affleck, serta didasarkan pada peristiwa historis yang ditulis Eric Jager dalam buku The Last Duel.
Cerita berpusat pada Marguerite de Carrouges yang berani menyuarakan tuduhan terhadap Jacques Le Gris. Namun, dalam struktur sosial dan hukum abad pertengahan, suara perempuan tidak berdiri sebagai subjek hukum yang kuat. Perkara Marguerite kemudian berubah menjadi pertarungan kehormatan antara dua laki-laki: suaminya, Jean de Carrouges, dan tertuduh, Jacques Le Gris.
Ketika jalur hukum biasa tidak memuaskan, Carrouges membawa perkara ini ke hadapan Raja Charles VI dan meminta penyelesaian melalui hukum duel, yaitu pertarungan duel yang dianggap sah secara hukum. Dalam sejarahnya, duel antara Carrouges dan Le Gris berlangsung pada 29 Desember 1386 di bawah otoritas Raja Charles VI. Jika Carrouges kalah, kekalahan itu dianggap membuktikan bahwa Marguerite berbohong, sehingga ia dapat dihukum mati karena sumpah palsu.
Dari perspektif hukum, film ini menarik karena menunjukkan bahwa pada masa kerajaan feodal, hukum tidak sepenuhnya berdiri sebagai sistem rasional seperti hukum modern. Hukum sangat bergantung pada otoritas raja, status sosial, kehormatan bangsawan, dan keyakinan religius.
Raja dalam film ini tidak hanya berperan sebagai kepala negara, tetapi juga sebagai sumber legitimasi hukum. Ketika Raja Charles VI mengizinkan duel, maka kekerasan yang semula tampak seperti balas dendam pribadi berubah menjadi tindakan hukum yang sah. Artinya, duel bukan sekadar perkelahian, melainkan mekanisme resmi yang diberi kekuatan oleh kekuasaan kerajaan.
Dalam konteks ini, hukum raja memiliki dua wajah. Pertama, ia memberi jalan formal bagi pencari keadilan ketika pengadilan biasa gagal. Kedua, ia juga memperlihatkan kelemahan hukum feodal karena kebenaran tidak ditentukan melalui bukti, saksi, atau penyelidikan rasional, melainkan melalui kemenangan fisik dalam pertarungan.
Duel dalam The Last Duel menggambarkan konsep trial by combat atau pengadilan melalui pertarungan. Dalam hukum abad pertengahan, duel semacam ini dikenal sebagai bentuk “judgment of God”, yaitu keyakinan bahwa Tuhan akan memenangkan pihak yang benar. Hukum Prancis saat itu memungkinkan bangsawan yang mengajukan perkara kepada raja untuk menantang pihak lawan dalam duel, terutama ketika bukti sulit dipastikan.
Dari sudut pandang hukum modern, mekanisme ini tampak problematis. Kebenaran hukum seharusnya ditentukan melalui alat bukti, pemeriksaan saksi, dan proses peradilan yang adil. Namun dalam film ini, kebenaran justru “dipertaruhkan” pada kekuatan tubuh laki-laki. Jika Carrouges menang, Marguerite dianggap benar. Jika Carrouges kalah, Marguerite dianggap berdusta. Dengan demikian, nasib korban tidak ditentukan oleh suaranya sendiri, melainkan oleh kemampuan suaminya membunuh lawannya.
Kekuatan utama film ini adalah caranya membongkar bahwa hukum pada masa itu sangat patriarkal. Marguerite adalah pusat perkara, tetapi ia tidak sepenuhnya menjadi pusat proses hukum. Tubuh dan kesaksiannya menjadi objek sengketa antara laki-laki: suami, tertuduh, bangsawan, dan raja.
Film ini juga memperlihatkan bahwa hukum dapat menjadi alat kekuasaan. Jacques Le Gris memiliki kedekatan dengan Count Pierre, sementara Carrouges merasa dirugikan oleh struktur politik feodal. Maka, perkara pidana tidak hanya menjadi soal benar atau salah, tetapi juga soal jaringan kekuasaan, status sosial, dan kehormatan bangsawan.
Duel yang disahkan raja memperlihatkan paradoks hukum feodal: hukum ingin mencari keadilan, tetapi cara yang dipakai justru brutal dan tidak rasional. Negara hadir, tetapi bukan untuk melindungi korban secara penuh. Negara hadir untuk menjaga kehormatan, ketertiban, dan wibawa kekuasaan.
Sebagai film sejarah, The Last Duel kuat karena tidak hanya menampilkan adegan perang dan duel, tetapi juga memperlihatkan hubungan antara hukum, kekuasaan, gender, dan kebenaran. Struktur cerita yang dibagi ke dalam beberapa sudut pandang membuat penonton melihat bagaimana “kebenaran” dapat diklaim berbeda oleh setiap pihak.
Namun, dari perspektif hukum, film ini paling menarik karena menunjukkan perbedaan besar antara hukum feodal dan hukum modern. Dalam hukum modern, asas pembuktian, praduga tak bersalah, perlindungan korban, dan pemeriksaan yang objektif menjadi unsur penting. Sementara dalam film ini, hukum masih bercampur dengan kehormatan, agama, maskulinitas, dan kekuasaan raja.
The Last Duel dapat dibaca sebagai kritik terhadap sistem hukum yang menempatkan kekuasaan dan kekuatan fisik di atas pembuktian rasional. Duel yang dilegalkan oleh raja menunjukkan bahwa pada masa itu, hukum belum sepenuhnya menjadi sarana pencarian kebenaran, melainkan juga alat untuk menjaga kehormatan bangsawan dan legitimasi kerajaan.
Dalam perspektif hukum raja, duel adalah bentuk keadilan yang sah. Namun dalam perspektif hukum modern, duel adalah simbol kegagalan sistem peradilan karena kebenaran tidak boleh ditentukan oleh siapa yang lebih kuat, melainkan oleh proses pembuktian yang adil.
